Sunday, October 19, 2008

Adventures In Creative Thinking


How many times have you caught yourself saying that there could be no other solution to a problem - and that problem leads to a dead end? How many times have you felt stumped knowing that the problem lying before you is one you cannot solve. No leads. No options. No solutions.

Did it feel like you had exhausted all possible options and yet are still before the mountain - large, unconquerable, and impregnable? When encountering such enormous problems, you may feel like you're hammering against a steel mountain. The pressure of having to solve such a problem may be overwhelming.


But rejoice! There might be some hope yet!

With some creative problem-solving techniques you may be able to look at your problem in a different light. And that light might just be at the end of the tunnel that leads to possible solutions.

First of all, in the light of creative problem-solving, you must be open-minded to the fact that there may be more than just one solution to the problem. And, you must be open to the fact that there may be solutions to problems you thought were unsolvable.

Now, with this optimistic mindset, we can try to be a little bit more creative in solving our problems.

Number one: maybe the reason we cannot solve our problems is that we have not really taken a hard look at what the problem is. Trying to understanding the problem and having a concrete understanding of its workings is integral in solving the problem. If you know how it works and what, exactly, the problem is, you will then have a better foundation to work on solving the problem.

Try to identify the participating entities within the problem and what their relationships are with one another. Take note of the things you stand to gain and stand to lose from the current problem. Once you do that, you will have a simple statement of what the problem is.

Number two: try to take note of all of the constraints and assumptions you have included in the scope of the problem. Sometimes it is these assumptions that obstruct our view of possible solutions. You have to identify which assumptions are valid, in which assumptions need to be addressed.

Number three: try to solve the problem in parts. Solve it going from a general view and move towards the more detailed parts of the problem. This is called the top-down approach. Write down the problem, and then break it down into manageable sections. Once you do that, come up with a one-sentence solution to each smaller portion. The solution should be a general statement of what will solve that particular portion of the problem. From here you can develop the solution further, and increase its complexity little by little.

Number four: although it helps to have critical thinking on-board as you solve a problem, you must also keep a creative, analytical voice at the back of your head. When someone comes up with a prospective solution, try to think how you could make that solution work. Try to be creative and remain open-minded tot he suggestions. At the same time, look for chinks in the armor of that solution.

Number five: it pays to remember that there may be more than just one solution being developed at one time. Try to keep track of all the solutions and their developments. There may be more than just one solution to the problem. If this is the case then you will need to eventually decide which solution is the best one.

Number six: remember the old adage "two heads are better than one." This is truer than it sounds. Always be open to new ideas. You can only benefit from listening to all the ideas each person has. This is especially true when the person you're talking to has had experience solving similar problems.

Organizing collective thought on the problem subject is much better than trying to figure it out on your own. Get yourself a "Mastermind Group" to assist you in resolving the problem satisfactorily.

Number seven: be patient. As long as you persevere and stay focused, there is always a chance that a solution will present itself. Remember that no one ever created an invention successfully the first time around.

Creative thinking exercises will also help you in your quest be a more creative problems solver. Here is one example:


Take a piece of paper and write any word that comes to mind at the center of the paper. Now look at that word, and then write the very next two words that come to your mind. This can go on until you can build a tree of related words. This helps you build logical thinking skills and fortifies your creative processes.

So, next time you see a problem you think you can't solve, don't panic. Panicking never solved anything and in most cases it will make the problem even worse! The solution might just be staring you right in the face. All it takes is just a little creative thinking, some planning, and a whole lot of perseverance.

Tuesday, October 14, 2008



Barbarisme Barat-Eropah

"BARAT adalah penjahat terbesar dalam sejarah. Barat adalah suatu kebetulan. Kebudayaannya adalah suatu hal yang tidak wajar, kerana tidak mempunyai dimensi yang asli," ungkap Roger Garaudy, seorang pemikir besar Perancis, dalam bukunya Promesses De L'Islam (Janji-janji Islam).

Garaudy, seorang pengkritik keras terhadap kebudayaan Barat Eropah, pernah menyandang jawatan Setiausaha Agung Parti Komunis Perancis dan akhirnya memeluk Islam setelah sekian lama mengkaji hubungan kebudayaan Barat dan Islam serta kecewa dengan Barat Eropah yang menganggap Islam sebagai musuh yang berbahaya.

Garaudy dengan sifatnya sebagai seorang bangsa Barat Eropah Perancis telah menentang keras sikap membuta-tuli Barat Eropah terhadap Islam dan mengingatkan hutang budi Barat Eropah kepada Islam yang tidak putus membantu pengetahuan Barat dalam menyuburkan seni, sains, sastera dan falsafah.

Bahkan Garaudy berkesimpulan bahawa Timur lebih maju daripada Barat Eropah yang belum cukup beradab, menjajah dan memanipulasi hasil bumi serta menebal rasisnya.

Garaudy menyuarakan pandangannya itu pada awal tahun 1980-an dan kebenaran pandangannya tetap relevan sehingga kini. Ini terbukti apabila di koloni Jerman baru-baru ini telah diadakan Kongres Antarabangsa anti-Islam yang mendapat tentangan dari Malaysia.

Memang sejarah Barat Eropah adalah sejarah berperang. Mereka menawan bangsa-bangsa bukan Eropah dengan begitu kejam sekali untuk mendirikan negara-negara baru dan empayar-empayar mereka.

Kerakusan ini diteruskan atas nama menghapuskan terorisme global dan pemusnahan senjata nuklear. Ketika berlakunya serangan 11 September terhadap bangunan World Trade Center, New York, mereka menjadikan alasan terbaik bagi bangsa Anglo-Saxon Eropah untuk kembali ganas dan bengis serta menjustifikasikan alasan-alasan untuk melancarkan serangan terhadap orang-orang Islam sama ada yang bersalah atau tidak.

Mereka ingin menunjuk kepada dunia bahawa mereka kuat dan sesiapa yang mencabar mereka akan diserang oleh tentera habis-habisan. Ziauddin Sardar, Ashis Nandy dan Merryl Wyn Davies dalam buku
Barbaric Others: A Manifesto on Western Racism telah membahaskan dengan menarik bagaimana Barat Eropah melihat bangsa bukan Eropah sebagai biadab, hamba yang boleh dipergunakan sewenang-wenangnya.

Dengan berhujah bahawa sejak Christopher Columbus eksplorasi belayar untuk mencari dunia baru pada 1492, hasrat dan niat buruk Barat Eropah untuk mendominasi bangsa lain jelas terserlah.

Istilah Barbaric Other yang digunakan oleh Sardar sebenarnya menggambarkan kebalikkan bahawa Barat Eropah sebenarnya yang barbaric dan bukannya bangsa bukan Eropah yang diperanginya.

Namun, dengan perangkap psikologi, bangsa bukan Eropah telah berjaya diideologikan sebagai bangsa barbaric yang mundur dan perlu diberi tunjuk ajar untuk hidup dengan lebih bertamadun.

Menurut Sardar dan rakannya lagi, ideologi Barat Eropah sebagai suatu yang superior akhirnya menemukan tempat dalam hal-hal kebudayaan seperti perfileman dan puluhan hasil sastera sehingga segala-galanya harus dilihat dari kaca mata Barat Eropah yang menguasai.

Dalam karya-karya filem seperti Salvador arahan Oliver Stone dan Apocalypse Now arahan Francis Ford Coppola menggambarkan betapa operasi-operasi CIA berjaya menumpaskan penduduk tempatan yang gilakan kuasa dan akhirnya CIA berjaya mengembalikan keamanan dengan melantik 'orang-orang' yang disukainya.

Ini membenarkan apa yang dikatakan oleh sasterawan Inggeris, Joseph Conrad dalam Nostromo: A Tale of the Seaboard iaitu: "Kita orang Barat akan menentukan siapa penduduk asli yang baik atau yang jahat untuk mewakili kita. Kita ciptakan mereka, kita ajarkan mereka untuk berbicara dan berfikir, dan ketika mereka memberontak, mereka hanya menegaskan pandangan kita terhadap mereka sebagai anak-anak yang bodoh."

Bagi Sardar, perjumpaan Dunia Baru Columbus merupakan simbol kepada kerakusan dan kekejaman Barat Eropah yang tidak henti-henti menguasai bangsa-bangsa lain dan terus menerus mencari wilayah baru untuk ditaklukinya.

Hari ini, mereka terus menjumpainya dan menguasainya atas nama globalisasi, IMF, Cyberspace, terorisme, hak asasi manusia, hak-hak wanita dan bermacam-macam lagi.

Bangsa Barat Eropahlah yang sebenarnya barbaric. Dalam Kamus Inggeris-Melayu terbitan Utusan Publications, barbaric bererti biadab, ganas, kasar, kejam, bengis, dan manusia yang tidak bertamadun. Kesemua sifat ini terdapat dalam bangsa Barat Eropah yang kita kenali hari ini.

Namun untuk menghadapi kerakusan bangsa Barat Eropah yang barbaric ini tidaklah semudah yang disangka. Ini kerana mereka telah menjelma sebagai penentu agenda dalam segala hal sehingga kita sukar untuk lari daripada pergantungan terhadap mereka.

Lihatlah produk-produk sampah mereka seperti filem-filem Terminator dan Collateral Damage yang terus menguasai benak-benak kita; produk-produk makanan segera mereka terus menyelerakan kita sehingga pada saat-saat tertentu, kita sendiri menghadapi kesukaran untuk merumuskan jati diri kita sendiri. Itulah bangsa Barat Eropah yang barbaric yang cukup hebat dan licik.

Kita tetap tinggal sebagai bangsa Timur-Islam yang halus pekertinya tetapi hebat dimanipulasikan.


http://www.kosmo.com.my/kosmo/content.asp?y=2008&dt=1014&pub=Kosmo&sec=Akademi&pg=ak_03.htm

Oleh SHAHAROM TM SULAIMAN
shaharomtm@yahoo.com


Saturday, April 19, 2008

Mendepani Globalisasi dan mengatasi masalah pemimpin: Suatu sumbangan karya Agung dalam Kesusteraan Melayu Tradisional (Taj al-Salatin karya Bukhari Al-Jauhari di karang di Acheh pada tahun 1603 zaman pemerintahan Sultan Alauddin Ri'ayat Syah Sayid al-Mukammil)

Dalam menghadapi globalisasi, kesusteraan Melayu merupakan satu ruang ilmu yang cukup luas untuk diadaptasikan dengan kehidupan manusia sejagat terutamanya masyarakat nusantara. Sastera ketatanegaraan merupakan satu cerminan bagi setiap pemimpin yang bersifat didaktik. Genre ini memberi garis panduan kepada pemimpin untuk melahirkan pemimpin yang mempunyai daya kepimpinan yang berteraskan nilai-nilai Islam bagi kemakmuran sejagat. Sastera ketatanegaraan juga membincangkan persoalan pentakbiran dan pemerintahan bagi sesebuah negara namun bukan undang-undang yang digubal berteraskan sistem politik.

Teks Tajus al-Salatin karangan Bukhari Al-Jauhari telah menganjurkan suatu tatacara, ciri-ciri kepimpinan, penerangan, panduan, nasihat dan pengalaman-pengalaman yang berguna bagi melahirkan pemimpin yang berkualiti dan sejajar dengan tuntutan Islam. Kehadiran genre ini membawa satu pengajuran konsep pentakbiran yang berteraskan Islam bagi menegakkan keadilan untuk dinikmati faedahnya sesama insan. Masyarakat Nusantara sememangya berpegang teguh dengan ajaran Islam. Nilai-nilai Islam menjadi teras dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Tanggungjawap sebagai khalifah dimuka bumi digarapkan dengan jelas dalam teks ini. Dalam teks ini telah dirumuskan 10 ciri yang boleh diketengahkan sebagai kriteria pemimpin yang adil dan sangat bermanfaat untuk pemimpin di zaman serba canggih ini. Kesemua ciri menganjurakan agar pemimpin seharusnya memiliki kualiti diri yang positif. Hal ini boleh dibandingkan dengan II Prince (1977) karya Niccolo Machiavelli yang digunakan sebagai rujukan kepada pemimpin jelas sekali dapat dilihat perbezaanya dengan Tajus al-Salatin dari aspek matlamat dan fungsinya. II Prince menggalakkan para pemimpin supaya berjaya dalam kerjaya dan kehidupanya dalam apa cara sekalipun sama ada baik atau buruk dan situasi ini amat berbeza dengan konteks adab dan Islam. Teks Tajus al-Salatin lebih menitik beratkan tentang adil dan keadilan. Mengamalkan keadilan akan dapat melahirkan pemimpin yang patuh kepada Allah dengan mengekalkan sifat adil lebih-lebih lagi dalam era globalisasi yang lebih mencabar ini.

Walaupun negara sedang medepani globalisasi di zaman moden ini namun genre ini sastera ketatanegaraan seperti Tajus al-Salatin ini wajar dipopularkan termasuk membudayakan amalan dan nasihat yang dianjurkan oleh Bukhari Al-Jauhari yang berteraskan Islam. Karya ini sewajarnya dijadikan rujukan bagi bakal-bakal pemimpin di Malaysia-Indonesia mahupun seluruh Nusantara. Hal ini penting dalam menghadapi era globalisasi ini perlu wujud kemakmuran bersama yang harus berkekalan di rantau ini selain mengenali dan menghargai warisan pemikiran Melayu itu sendiri. Intipati dan kanduganya boleh menjadi panduan kepada pemimpin dan individu yang bergelar khalifah di muka bumi ini. Ianya sesuai dijadikan rujukan lebih-lebih lagi dalam menangani masalah sosial yang kini boleh dianggap seiring dengan pembagunan. Manusia yang semakin membangun kadang kala tidak mengunakan akal yang dianugerahkan dengan sebaiknya kerana lupa akan kurniaan Allah s.w.t adalah untuk tujuan kebaikan. Jatuh bagun sesebuah negara adalah terletak kepada pemimpinya, seandainya pemimpin menggunakan akalnya dengan sia-sia maka kerajaan yang dipimpinya juga akan menjadi musnah dan sia-sia.

Walaupun karya ini harus menjadi rujukan pemimpin tetapi ia juga khusus kepada setiap individu. Setiap invidu adalah pemimpin sekurang-kurangya pada diri sendiri dan keluarga. Oleh itu, panduan yang telah sedia ada dicipta atas pemikiran Melayu sendiri dan berlandaskan Al-Quran dan Sunnah merupakan sumbangan yang amat bermakna bagi karya kesusteraan Melayu Tradisional yang boleh dimanfaatkan oleh semua khalayak dan pemimpin serta seluruh manusia sejagat.

*Ini ulasan atau ringkasan saya terhadap artikel Medepani Globalisasi: Suatu sumbangan Kesusteraan Melayu dari Dr Saiful Bahri Md Radzi. Teks Tajus Al-Salatin karya Bukhari al-Jauhari merupakan genre ketatanegaraan. Kepada orang-orang "kenamaan" Malaysia harus dibaca buku ini. Bukankah sastera itu indah. Sejarahkan sesuatu yang berguna untuk masa depan? 2008-1603=405 tahun dah berlalu.... Daulat Tuanku!

Monday, April 14, 2008

Tajus Salatin (The Crown of Sultans) of Bukhari al-Jauhari as a conical work and attempt create a Malay literary canon

Secara umumnya, ‘canon’ bermaksud satu kumpulan tulisan yang diterima sebagai sahih. Namun demikian terdapat pelbagai andaian mengenai definisi sebenarnya. Apa yang dapat disimpulkan mengenainya ialah ‘literary canon’ merupakan himpunan hasil karya asli yang mempunyai makna yang kukuh, ada unsur tradisional dan dikenali umum. Ia juga dilihat sebagai satu himpunan peraturan berkaitan sastera dan membentuk satu model struktur yang menggambarkan nilai estetika tersendiri. Hasil karya berunsurkan keagamaan pula dijadikan penentuan awal dalam bentuk dan isi kandungan suatu karya.

Tajus Salatin atau ‘Mahkota Raja-Raja’ merupakan kitab pertama dalam sastera Melayu Islam yang membicarakan mengenai etika, politik dan pemerintahan yang ditulis oleh Bukhari al-Jauhari pada tahun 1603M. Kitab ini dilihat sebagai satu hasil karya agung dan sempurna serta banyak mempengaruhi hasil karya Melayu yang lain contohnya Hikayat Bakhtiar, Hikayat Isma Yatim dan Salasilah Kutai. Pengarang kitab ini banyak merujuk ayat-ayat al-Quran dan Hadis serta hikmah yang dikemukakan oleh para cendiakawan dan ulama terkemuka dalam penghasilan kitab ini. Pengaruh al-Quran dalam Tajus Salatin ini dapat dilihat dari pelbagai aspek iaitu dari segi gaya bahasa, penyampaian mesej mahupun penyusunan isi kandungan dalam kitab. Setiap mesej yang hendak disampaikan oleh pengarang kepada pembaca dikarang menggunakan kata-kata yang indah dan tepat. Setiap bab disusun membentuk satu unit yang menyeluruh mengikut corak pelan yang sama. Isi kandungannya juga digarap dengan baik iaitu dimulai dengan isu ketuhanan dan seterusnya kepada isu kepimpinan dan etika.

Pengarang kitab ini menjadikan konsep keadilan sebagai titik fokus atau aspek terpenting dalam kitabnya. Aspek-aspek lain seperti kejujuran, murah hati dan sebagainya menjadi aspek sokongan dalam kitab ini yang dapat membantu pemerintah menjalankan tanggungjawabnya dengan sempurna.

Oleh sebab itu, kitab ini amat sesuai untuk dijadikan bahan bacaan utama kepada pemerintah negara, golongan bangsawan, para menteri serta rakyat biasa sebagai rujukan. Setiap bahagian dalam kitab ini dihuraikan secara terperinci beserta kisah-kisah teladan atau puisi supaya pembaca dapat memahaminya dengan jelas. Topik-topik dalam kitab ini disusun secara teratur di mana suatu topik yang akan dibincangkan dalam bahagian tersebut akan terlebih dahulu diutarakan dalam bentuk persoalan dan selepas itu barulah perbincangan mengenainya dihurai dengan jelas.

Dapat disimpulkan di sini bahawa Tajus Salatin adalah merupakan hasil karya yang merangkumi keseluruhan ilmu pengetahuan dalam Islam dengan memberi penekanan kepada aspek keadilan dan pemerintahan. Namun demikian, dalam kesusasteraan Melayu, kitab Tajus Salatin ini tidak boleh dikatakan sebagai satu hasil kerja yang sahih atau asli kerana terdapat satu sistem hirarki yang menggambarkan keaslian suatu karya. Dalam satu sudut yang lain pula, kitab ini memperlihatkan hasil penulisan yang hebat walaupun isi kandungannya banyak diambil dari karya-karya terkemuka lain dan digarap sendiri oleh pengarangnya. Percubaan untuk menjadikan Tajus Salatin sebagai penulisan sahih dalam sastera Melayu kurang berjaya kerana masih terdapat banyak lagi hasil penulisan yang hebat dalam kesusasteraan Melayu yang terkenal dengan asas retorik yang mencerminkan budaya keIslaman.

Tuesday, April 08, 2008

BOIKOT-PRODUK DARI BELANDA/DUTCH - DON'T BUY!!

Umat Islam memandang serius filem FITNA yang dihasilkan oleh Geert Wilders, seorang ahli parlimen Belanda, yang kini ditayangkan di dalam internet di seluruh dunia melalui youtube.

Filem Fitna itu, yang disiarkan selama 15 minit dalam sebuah laman web pada 27 Mac, mengkritik Islam, dan ayat Qur'an digunakan dengan sewenang-wenangnya dan tidak mengikut konteks.

Ahli majlis perundangan Belanda Geert Wilders menerbitkan filem itu, yang menunjukkan kenyataan daripada paderi yang radikal dan menyebut surah Al-Quran dengan diselitkan imej serangan 11 Sept terhadap Pusat Dagangan Dunia (WTC) di New York, pengeboman kereta api penumpang di Madrid, Sepanyol pada 2004 dan pembunuhan pengeluar filem Belanda Theo van Gogh di Amsterdam street pada akhir tahun itu.

Sedikit tentang sibangsat Geert Wilder. Beragama Roman Katholik dan pernah berjuang bersama tentera Israel.. Si Bangsat ini pernah menyaran umat Islam negaranya supaya mengoyak Al Quran jika ingin menetap di Belanda. Juga pernah menyatakan bahawa sekiranya Nabi Junjungan kita masih hidup, baginda akan disenaraikan sebagai pengganas. Kenali Musuh anda !!!


Kenyataan yang dikeluarkan oleh Tun Dr Mahathir semalam agar produk Belanda dipulaukan hanya mendapat perlian sinis daripada blog pro-zionis dan anti-Islamis seperti Jihad watch dan sebagainya.

Mereka berkata bahawa negara Belanda akan lebih kaya jikalau produk mereka di pulaukan oleh orang Islam kerana negara Eropah pula yang akan membeli produk mereka. Malah mereka memerli dengan mengatakan ekonomi mereka tidak terjejas dengan pemulauan produk ini kerana negara Islam adalah negara miskin. Denmark pernah mengalami kerugian USD 1.5 juta sehari kerana pemulauan barangan mereka.

Maka, marilah kita sama-sama melaksanakan kewajipan ini agar penghinaan kepada Islam mendapat pembalasan yang sewajarnya.

Saya menyeru agar semua pembaca bersama-sama memboikot produk yang dihasilkan oleh Belanda.

BOIKOT-PRODUK DARI BELANDA/DUTCH - DON'T BUY!!

1. Dutch Lady - Susu

2. Ferrero Roche - Coklat

3. Wall's - Ais Krim

4. Ing -Insurans

5. Planta -Magerin

6. Lady's Choice -Magerin

7. Lipton -Teh

8. Shell -Minyak

9. Knorr -Perisa Makanan

10. Dove -Mandian

11. Sunlight -Magerin/Pencuci Pinggan

12. Radiant -Deodoran

13. Rexona -Deodoran

14. Ponds -Produk Kecantikan

15. Kieldsens -Coklat

16. Slimfast -Produk Pelangsing

17. Lego -Kismis

18. Philips -Barangan Elektrik

19. Duyvis -Makanan Ringan

20. Gouda -Keju

21. Robin -Pencuci Lantai/Pakaian

22. Ariel -Pencuci Lantai/Pakaian

23. Omo -Pencuci Lantai/Pakaian

24. Labello -Lip Balm

25. Pickwick -Teh

26. Venz -Mentega Coklat

27. Kinder Bueno -Coklat

28. Unilever -Syarikat

29. Dumex -Susu Tepung

30. Nutricia -Susu Bayi

31. Sunsilk -Shampoo

32. Fair & Lovely -Produk Kecantikan

33. Lux -Mandian

34. Vaseline -Lip Balm

35. Cif -Pencuci Lantai

36. Surf -Pencuci Kain

37. Wishbone -Pencuci Kain

38. Doriana - Keju Krim

39. Bertolli -Minyak Masak

40. Clear -Shampoo

41. Breeze -Pencuci Kain

42. Sun -Pencuci Kain


*Sudah lama tidak menulis atau "cut and Paste" artikel-artikel yang bagus. Last post 3 november 2007. Minta maaf pada rakan-rakan. Lebih kepada membaca blog-blog orang lain. Seperti sedia maklum, isu sekarang sangat banyak dan panas. Mohon kebenaran kepada tuan punya artikel. Tak tahu siapa yang menulis. Namun atas kesedaran "cut and paste" juga dekat blog ini. Minta kebenaran.

Saturday, November 03, 2007

Tanggapan umum orang barat terhadap masyarakat Melayu zaman kolonial

Tulisan terawal tentang orang Melayu telah ditulis oleh Tome Pires. Menurut beliau, mereka (orang Melayu) adalah bangsa yang pencemburu kerana para isteri orang-orang penting tidak pernah telihat dimuka umum.

- seorang pegawai Portugis telah menghuraikan penampilan dan pakaian orang Melayu seterusnya beliau menyatakan bahawa kebanyakan mereka menyenangkan, nakal dan sanggat ceroboh. Mereka juga berakal dan cerdas tetapi mengabaikan pelajaran dan sastera. Beliau juga membandingkan perlakuan golongan bangsawan dengan rakyat biasa. Menurutnya para bangsawan mengisi waktu dengan menyabung ayam dan muzik

- John Francis Gamelli Careri yang datang ke Melaka pada 1665 beliau menyatakan orang-orang Melayu (Minangkabau) yang beragama Islam adalah para pencuri yang handal

- DE Vellez Guirrero seorang kapten Portugis menyatakan orang Melayu biadap.

- Francois Valentyn (Belanda) yang menyatakan orang Melayu lincah, lucu, cerdik, berbakat dan yang paling sopan santun dari dunia timur.

Imej Orang Melayu dimata Inggeris pada akhir abad ke-19 dan abad ke-20

- Sweettenham adalah sama yang diutarakan oleh Raffles. Tetapi beliau telah menambah iaitu orang Melayu mempunyai sifat enggan bekerja dan sorang Muslim yang fatalis yang sangat mempercayai tahayul disamping itu orang-orang Melayu juga mempunyai ciri-ciri kesetiaan khususnya kepada pemerintah, ramah tamah, bermurah hati tetapi mempunyai sifat boros.

- Bagi Clliford beliau membandingkan masyarakat Melayu pantai barat dengan pantai timur. Penduduk dipantai barat dianggap bodoh, lemah dan beradab manakala masyarakat Melayu pantai timur kurang beradab. Seterusnya Clifford membandingkan masyarakat Melayu Terengganu dan Pahang, menurut beliau orang dari Pahang berfikiran maju tentang ketenteraan suka bercinta dan gemar bersabung ayam. Ini menampakkan masyarakat ini tidak beragama tidak intelek dan anggkuh. Mereka juga sanggup memberi kesetiaan luar biasa kepada para pemimpin. Manakala tentang masyarakat Melayu Terengganu beliau menyatakan bahawa mereka ini sukakan kedamaian dan suka bekerja tetapi kurang memberi kesetiaan kepada pemerintahan.

- Lantah ini berlaku tanpa disedari. Orang yang melatah suka meniru gaya orang yang mengusiknya dan sering disertai bahasa yang tidak sopan ada kalanya latah ini berlangsung selama berjam-jam sehingga orang yang melatah keletihan

- Sir Richard Winsted -ketidakaslian dikalangan masyarakat Melayu, kebanggaan terhadap bangsa mereka. Kemampuan menyesuaikan diri dan yang pentingnya jolokan kemalasan.

Konsep kerajinan dan kemalasan di kalagan orang Melayu

- Para penulis kolonial Eropah senang sekali membicarakan peristiwa sensasi tentang kehidupan peribumi sebagai sebahagian daripada berbagai-bagai usaha mereka untuk menggambarkan sifat masyarakat peribumi. Dalam hal ini, ilmuan kolonial amatur yang cenderung membuat berbagai-bagai penilaian yang tidak berasas tentang masyarakat peribumi, sejarah, kebudayaan dan agamanya.

- Raffles juga mempunyai ciri pembawaan yang lain iaitu menganggap bahawa orang Melayu itu malas contohnya ketika mempunyai beras mereka tidak bekerja kerana tiada rangsangan untuk terus mencari rezeki. Selain itu beliau juga menyatakan bahawa orang Melayu suka membalas dendam. Keris telah diggunakan sebagai alat perkelahian. Orang Melayu juga peka terhadap hinaan dan benci pada perdamaian yang dipaksakan oleh pihak lain.

- menganggap Islam alat pemecah belah persatuan suku Melayu. Ia menganggap masyarakat Melayu dahulu tentulah satu bangsa, berbicara satu bahasa memelihara watak dan adat istiadat mereka semua negara kepulauan yang mencakupi Filipina, Sumatera dan Irian Barat. Disini menurut beliau agama Hindu dan Islam menyababkan kepelbagaian yang lebih jauh kesanya mengakibatkan tidak ada sistem undang-undang yang diterapkan dengan baik dan seragam. Dalam hal ini jika Raffles benar-benar seorang ilmuan sejati, sudah tentu ia dapat membezakan perbezaan suku, bahasa, politik, dan agama masyarakat Melayu telah ada jauh sebelum pengIslaman daerah tersebut.

Kesimpulan

- Kemalasan yang dilabelkan kepada peribumi Melayu adalah tidak berasas. Penjelasan ini jelas terbukti melalui beberapa pandangan tokoh yang dimuatkan dalam buku-buku mereka. Sebelum itu perlu dijelaskan bahawa sesungguhnya penulis kolonial Eropah sememangnya amat senang sekali membicarakan tentang peristiwa sensasi, mengembar-gemburkan kemalasan peribumi Melayu di Asia semata-mata untuk mengangkat martabat bangsa Eropah itu sendiri. Kenyataan ini demikian sifatnya, lantaran mereka hanya melihat kemalasan itu dari aspek yang sempit sahaja. Dalam hal ini mereka seharusnya memandang secara global sebelum melabelkan kemalasan itu. Dalam hubungan ini, sifat malas itu merupakan fitrah semulajadi yang ada pada setiap manusia

Ini adalah sebahagian ringkasan daripada kerja-kerja saya. Rujukan yang saya gunakan tidak dinyatakan sebab saya malas nak mencari kembali. Cuma disini saya nak minta pendapat anda pula bagaimana dengan zaman sekarang?

Sunday, October 07, 2007


Sedikit pandagan dan ringkasan folklor untuk pengetahuan umum berdasarkan buku: Danandjaja, James. 1968. Folklor Indonesia: Ilmu gossip, dongeng dan lain -lain. Jakarta: Pustaka Grafitifers.


Erti folklor lebih luas berbanding erti tradisi lisan kerana ia mencakupi cerita rakyat, teka-teki, peribahasa sedangkan folklor seperti tarian rakyat dan artistektur rakyat. Istilah ini sudah menjadi istilah internasional dan mencakup dua kata iaitu folk dan lore. Folk adalah sekelompok orang yang mempunyai ciri fizikal, sosial dan kebudayaan sehinggakan dapat dibeza dengan kelompok yang lain. Lore pula sebahagian tradisi folk yang diwarisi secara turun temurun dan lisan melalui satu contoh gerak syarat. Folklor sebagai kebudayaan petani desa sedangkan kebudayaan orang luar ialah kebudayaan primitif disebabkan kebudayaan petani desa lebih rendah daripada kota. Sebenarnya erti folk lebih luas bukan hanya petani desa sahaja. Folk juga sekelompok orang yang memiliki ciri kebudayaan yang berbeza dengan kelompok yang lain disebabkan itu folklor masyarakat jadi luas. Contohnya kita bukan sahaja mempelajari folklor orang yang kulit berwarna cokelat malah yang lain juga seperti warna kulit hitam, putih asalkan mereka dalam warga yang sama. Begitu juga dengan kepercayaan, mata pencarian hidup bagi golongan petani, nelayan, pedagang, penternak, pemain sandiwara, guru sekolah, tukang beca dimana mempunyai kebudayaan yang berbeza. Begitu juga dari bahasa dimana disetiap dalam negara terdapat pelbagai kaum yang mempunyai pelbagai bahasa dan juga dari segi agama seperti Islam, Katoloik, Hindu dan sebagainya yang mempunyai pelbagai ciri kebudayaan. Semua folklor dari rakyat yang ada di pusat atau daerah, kota atau desa asalkan mereka tahu identiti kelompok dan kebudayaan mereka.

Folklor adalah bentuk penyebaran secara lisan iaitu melalui tutur kata dari mulut ke mulut dan ia juga bersifat tradisional yang disebarkan dalam bentuk relatif tetap. Folklor juga ada dalam versi-versi yang berbeza-beza kerana penyebaran secara lisan dan akibat daripada sesetengah pencerita yang menceritakan sesuatu cerita akan mengalami proses lupa diri yang mudah mengalami perubahan pada bahagian luar dan juga nama pencipta sesebuah cerita itu juga kita tidak ketahui menyebabkan folklor itu menjadi milik bersama dalam masyarakat. Folklor juga bentuk berumus atau berpola seperti menggunakan kata klise bagi mengambarkan sesuatu, contohnya bunga yang berbau wangi untuk menggambarkan seorang gadis yang cantik yang merupakan salah satu ungkapan tradisional. Selain itu, ia juga mempunyai kegunaan dalam kehidupan bersama sebagai alat mendidik kepada masyarakat, pelipur lara dan untuk meluangkan masa bagi golongan tertentu seperti sesudahnya melakukan kerja. Istilah culture pula telah dipergunakan dalam erti kebudayaan yang lebih umum berbanding dengan folklor yang lebih khusus dan ia diperkenalkan 19 tahun lebih lambat daripada istilah folklor. Istilah folklor masih timbul pertentangan disebabkan banyak pendapat. Antaranya berpendapat folklor bukan sahaja kesusasteraan lisan seperti cerita rakyat malah pola atau hasil kelakuan manusia dan lebih mementingkan aspek lor daripada folk. Walaupun folklor diterbitkan dalam bentuk cetakan atau rakaman namun ia tetap berasal dari peredaran lisan.